oleh

Jadikan Al Qur’an dan Hadist Sebagai Literatur Kehidupan Seorang Muslim Oleh : Dede Farhan Aulawi

-BERITA, OPINI-10 views

SERGAP.CO.ID

Dalam kehidupan empirik seringkali garis putih dan hitam itu tidak jelas, bahkan terkadang banyak area abu – abu (grey area) yang membuat kita bingung membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang bohong dan mana yang benar, mana yang boleh dan mana yang dilarang. Hal ini tidak sekedar dirasakan oleh masyarakat awam saja, tetapi sebagian kaum cendekia pun terkadang merasa kesulitan karena antara hitam dan putih sudah mulai membaur, atau mungkin memang ada yang sengaja menyamarkannya dengan berbagai tujuan dan kepentingan masing – masing.

Terlebih dalam situasi yang dirasakan semakin sulit oleh sebagian masyarakat, terkadang mungkin ada yang mulai tidak lagi mempedulikan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Bahkan kadang tampak sengaja dengan ego dan kesombongannya mulai menampakan keberanian untuk melawan bahkan menantang tuntunan agama dalam kehidupannya. Secara yuridis formal bisa saja dalam KTP nya tertera beragama Islam, namun dalam ucapan dan perbuatannya sama sekali tidak mencerminkan seorang muslim, bahkan ada cenderung yang melecehkan bahkan menghina ajaran agamanya sendiri. Tidak sedikit pula banyak fitnah keji yang berseliweran dengan segala kepentingannya. Mungkin ini bagian dari tanda – tanda munculnya fitnah akhir zaman.

Dalam situasi seperti ini, bagaimana seharusnya sikap kita sebagai seorang muslim ? Untuk menjawabnya sebenarnya sederhana saja, yaitu agar kita selalu berpegang teguh pada ajaran agama, dan tetap bersatu sehingga bisa menghindari perpecahan alias bercerai berai. Hal ini disampaikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Ali ‘Imran 3 : Ayat 103 yang berbunyi :
وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا
” Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai “.

Jika diterapkan dalam kehidupan sehari – hari, hal ini bisa dimaknai bahwa dalam kehidupan harus selalu berpegang teguh pada ajaran agama. Artinya ketika kita menghadapi suatu keraguan dalam melihat suatu fenomena, maka dalam menentukan sikap sebaiknya kita selalu mencari dalil untuk dasar dalam menentukan segala sesuatu tersebut pada ajaran agama, baik yang tertuang dan al Qur’an maupun hadist Rasulullah SAW. Ingatlah selalu bahwa yang HAQ adalah yang terdapat dalam Al Qur’an atau hadist yang shahih.

Di samping itu, umat Islam pun diperintahkan untuk mentaati pemimpinnya selama perintahnya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama alias perintah ke arah kemaksiatan. Selama perintahnya benar dan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, maka setiap muslim diwajibkan untuk mematuhinya. Hal ini tertuang dalam hadist HR. Bukhari, no. 2955 yang berbunyi :
السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“ Patuh dan taat pada pemimpin tetap ada selama bukan dalam maksiat. Jika diperintah dalam maksiat, maka tidak ada kepatuhan dan ketaatan ”

Juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59 yang berbunyi :
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
” Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya “

Itulah sekelumit tulisan singkat untuk mengingatkan kita semua agar senantiasa berada dalam garis lurus, yaitu selalu berpedoman pada al Qur’an dan hadist dalam kehidupan sehari – hari. Jadikanlah sebagai rujukan atau literatur untuk melihat atau menilai sesuatu yang boleh atau tidak. Apalagi ketika sedang dihadapkan pada suatu pilihan, maka dasar pilihan kita harus selalu merujuk pada ketentuan agama agar kita selamat dunia dan akhirat, serta senantiasa ada dalam ridlo-Nya. Aamiin YRA.

(***)

 776 total views,  2 views today

Komentar

News Feed