oleh

Mutiara Zorena Rezky Uni Pessel Merasa di Permalukan Dalam Ajang Duta Pariwisata Uda dan Uni Sumbar, Ini Tanggapan Lisda Hendrajoni

-BERITA, PADANG, SUMBAR-1.133 views

SERGAP.CO.ID

PADANG, || Meski telah selesai digelar pada Jum,at (5/11) kemarin, ajang Duta Pariwisata Uda dan Uni Sumatera Barat masih meninggalkan polemik, khususnya bagi peserta asal Pesisir Selatan Mutiara Zorena Rezky. Uni Pesisir Selatan tersebut merasa dirinya dipermalukan, dalam ajang tahunan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sumatera Barat tersebut.

Merasa kurangnya mendapatkan respon oleh pihak terkait, Mutiara pun mengadukan nasibnya bersama dengan Persatuan Uda dan Uni Pesisir Selatan lainnya ke Anggota DPR RI asal Sumatera Barat Lisda Hendrajoni.

Ditemui Lisda dalam sela-sela kunjungan dapil di Sumatera Barat, Lisda yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua TP PKK Pesisir Selatan mendengarkan langsung Curahan hati Mutiara dan persatuan Uda-Uni Pesisir Selatan lainnya.

Menurut kronologisnya, dalam ajang malam Grand Final, Uni Mutiara yang mewakili Pesisir Selatan dinyatakan lolos masuk kedalam babak 6 Besar, dimana ke enam peserta yang tersisa dipastikan mendapatkan Salempang dan penghargaan dari panitia. Namun, dalam acara malam tersebut terjadi keanehan, dimana Dewan Juri memanggil 7 nama sehingga menjadi sesuatu yang tidak biasa dalam ajang Uda Uni Sumatera Barat.

Ironisnya, setelah seluruh nama pemenang disebutkan, Uni Pesisir Selatan Mutiara, menjadi satu-satunya perwakilan yang tidak menerima salempang ataupun hadiah dari penyelenggara (Biasanya ke 6 Peserta dipastikan menerima salempang). Hal inilah yang membuat Mutiara merasa dipermalukan, karena sempat berada di barisan para calon juara karena dipanggil oleh Dewan Juri.

“Sempat menjadi bangga karena mewakili daerah bisa masuk ke 6 besar. Para pendukung juga sudah berbahagia, karena 6 besar dapat dipastikan menerima salempang, tinggal memastikan juara. Namun ternyata cuman wakil Pessel yang tidak menerima apapun,” ungkap Mutiara saat menceritakan kejadian malam Grand Final Uda-Uni Sumbar.

Menurut Mutiara, pihaknya juga sempat mempertanyakan hal tersebut, namun Dewan Juri beralasan adanya kesamaan nilai pada klasifikasi Uni sehingga ada pertimbangan tersendiri dari Dewan juri.

“ Dewan Juri juga sempat menyebutkan kejanggalan yang terjadi dengan alasan adanya kesamaan nilai. Namun tidak dijelaskan pertimbangan apa yang diambil selanjutnya sehingga Pessel menjadi tersingkir,” sambungnya.

Menanggapi hal tersebut, Lisda Hendrajoni mengaku turut prihatin dengan hal yang menimpa peserta wakil dari Pesisir Selatan. Menurut Lisda hal ini harusnya menjadi perhatian oleh Penyelenggara dan Dinas terkait agar tidak mencoreng nama baik ajang Pemilihan Duta Wisata Sumatera Barat yang digelar hampir setiap tahunnya.

“Tentunya ini harus menjadi perhatian khusus. Pasalnya kegiatan ini sudah menjadi ajang tahunan di Sumatera Barat, dimana peserta yang diutus adalah wakil yang terbaik dari masing-masing Kabupaten dan Kota di Sumbar. Jadi jangan sampai kepercayaan dari para peserta kepada panitia menjadi berkurang,” ujar Lisda menanggapi.

Lisda sangat menyayangkan sikap Penyelenggara dan dewan juri dalam gelaran tersebut, yang membiarkan Mutiara berdiri sendiri diatas panggung tanpa adanya penjelasan apapun, sehingga berdampak bagi karakter dan psikologis anak kedepan.

”Inikan sebuah tindakan yang terkesan membunuh karakter seorang anak, dan pastinya berdampak bagi psikologis anak kedepannya. Jadi ini bukanlah persoalan sepele. Tindakan juri juga seharusnya perlu di evaluasi, karena sudah berbeda dengan aturan yang seharusnya (6 besar), sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari,” jelasnya.

Anggota Komisi VIII tersebut juga menyebutkan menurutnya, yang menjadi persoalan disini bukan hanya Mutiara secara pribadi, namun juga Pesisir Selatan, karena Mutiara berhak mewakili Pessel dalam ajang Uda Uni Sumbar, setelah sebelumnya menjadi yang terbaik dalam ajang Uda dan Uni Pesisir Selatan.

“Ini bukan soal kalah atau menang. Tapi soal menjaga nama baik Kabupaten dimana Mutiara terpilih menjadi yang terbaik di Pesisir Selatan dan berhak mewakili Pessel pada tingkat Provinsi. Oleh karenanya, Pihak Penyelenggara ataupun Dewan Juri harus segera meminta maaf, tidak hanya kepada Mutiara namun juga kepada masyarakat Pesisir Selatan secara umumnya, dan bertanggung jawab untuk menjelaskan secara utuh sekaligus memberikan solusi terkait polemik yang terjadi,” tegas Lisda.

Dalam pertemuan tersebut Lisda menyatakan akan mendukung segala upaya yang dilakukan oleh Mutiara dan Pihak Uda Uni Pessel dalam mendapatkan hak mereka dalam ajang Grand Final Uda dan Uni Sumatera Barat.

Sosok Lisda Hendrajoni sudah tak asing lagi bagi para Penggiat Duta Wisata Sumatera Barat. Dalam perjuangannya bersama masyarakat Pesisir Selatan, Lisda berhasil mengangkat Kawasan Mandeh menjadi Destinasi Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Pariwisata Indonesia (API) pada tahun 2017 Kategori surga tersembunyi.

Khusus untuk ajang Uda dan uni Duta Wisata, Lisda Hendrajoni juga menjadi salah satu Tokoh yang mendukung agar gelaran tahunan tersebut tetap dilaksanakan, saat adanya muncul wacana penghapusan ajang pemilihan Duta Wisata di Sumatera Barat.Saat menjabat sebagai Ketua TP-PKK Pesisir Selatan, Lisda menaruh perhatian khusus terhadap Uda dan Uni Pesisir Selatan sehingga berhasil mengutus yang terbaik bahkan menjadi Juara secara berturut-turut pada Tingkat Provinsi (Uda Uni Sumbar) yakni tahun 2016, 2018 dan 2019.

(WH)

 579 total views,  4 views today

Komentar

NEWS